kyokinosekai

Jumat, 11 Desember 2015

Terlalu Manis Untuk Dilupakan



            Butiran-butiran hujan memukul jalanan kota dengan derasnya. Terlihat seorang pria jangkung, dengan matanya yang sayu menatap kosong ke luar jendela kafe. Gitar putih kesayangannya tergeletak tak berguna. Toru namanya. Dia sedang memikirkan keadaan gadisnya di sana,di surga. Benar, kekasihnya yang cantik telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Meninggalkan beribu kerinduan yang terpendam dalam hati Toru. Keresahan menjalani hidup mulai menyambangi hari-hari Toru. Kerapuhan telah melanda jiwanya. Ia rindu saat-saat dia mengantar pulang kekasihnya, mereka bergandeng tangan. Menggenggam dengan erat satu sama lain. Ia merasa tak mampu melewati hari-harinya, yang seharusnya indah jika dihabiskan bersama sang kekasih.
            “Apa yang bisa ku lakukan,Tuhan? Dia telah kau ambil dari kehidupanku. Aku tahu aku harus bangkit, tapi mana mungkin itu bisa kulakukan secepat ini? Kekasih mana yang sanggup merelakan kepergian kekasihnya, sekalipun aku ini pria yang apatis, aku juga punya rasa, punya hati,” teriaknya dalam hati. Hati yang kini diselubungi kesedihan yang begitu hebat. Dia pun menendang pelan meja dihadapannya. Derit meja itu membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Tapi apa peduli Toru, toh hanya pedih yang dirasakannya saat ini.
            Celoteh para pengunjung wanita yang berada di belakang tempatnya terduduk itu sangat menganggu kenyamanan Toru. Melihat jepit yang dikenakan salah satu diantara wanita tersebut, mengingatkan jepit rambut merah  muda yang Toru berikan kepada kekasihnya valentine lalu. Tapi itu hanya tinggal kenangan, tak ada lagi valentine bagi Toru setelah semua ini terjadi. Ia pun memutuskan untuk pergi dari kafe itu dan menerobos derasnya hujan yang tak kunjung reda.
            Sampailah dia di bukit belakang sekolah, tempat dimana ia bertemu sang kekasih untuk pertama kalinya. Dengan lesu ia mulai memetik senar gitarnya. Dia pun hanyut terbawa arus yang membuatnya kalang-kabut. Di tengah raungan liar gitarnya, ia mengerang penuh kebencian, memecah kesunyian dibalik kegaduhan rintik hujan.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar