Butiran-butiran hujan memukul
jalanan kota dengan derasnya. Terlihat seorang pria jangkung, dengan matanya
yang sayu menatap kosong ke luar jendela kafe. Gitar putih kesayangannya
tergeletak tak berguna. Toru namanya. Dia sedang memikirkan keadaan gadisnya di
sana,di surga. Benar, kekasihnya yang cantik telah meninggalkannya untuk
selama-lamanya. Meninggalkan beribu kerinduan yang terpendam dalam hati Toru.
Keresahan menjalani hidup mulai menyambangi hari-hari Toru. Kerapuhan telah
melanda jiwanya. Ia rindu saat-saat dia mengantar pulang kekasihnya, mereka
bergandeng tangan. Menggenggam dengan erat satu sama lain. Ia merasa tak mampu
melewati hari-harinya, yang seharusnya indah jika dihabiskan bersama sang
kekasih.
“Apa yang bisa ku lakukan,Tuhan? Dia
telah kau ambil dari kehidupanku. Aku tahu aku harus bangkit, tapi mana mungkin
itu bisa kulakukan secepat ini? Kekasih mana yang sanggup merelakan kepergian
kekasihnya, sekalipun aku ini pria yang apatis, aku juga punya rasa, punya
hati,” teriaknya dalam hati. Hati yang kini diselubungi kesedihan yang begitu
hebat. Dia pun menendang pelan meja dihadapannya. Derit meja itu membuat
beberapa pengunjung menoleh ke arahnya. Tapi apa peduli Toru, toh hanya pedih
yang dirasakannya saat ini.
Celoteh para pengunjung wanita yang
berada di belakang tempatnya terduduk itu sangat menganggu kenyamanan Toru.
Melihat jepit yang dikenakan salah satu diantara wanita tersebut, mengingatkan
jepit rambut merah muda yang Toru
berikan kepada kekasihnya valentine lalu. Tapi itu hanya tinggal
kenangan, tak ada lagi valentine bagi Toru setelah semua ini terjadi. Ia
pun memutuskan untuk pergi dari kafe itu dan menerobos derasnya hujan yang tak
kunjung reda.
Sampailah dia di bukit belakang
sekolah, tempat dimana ia bertemu sang kekasih untuk pertama kalinya. Dengan
lesu ia mulai memetik senar gitarnya. Dia pun hanyut terbawa arus yang
membuatnya kalang-kabut. Di tengah raungan liar gitarnya, ia mengerang penuh
kebencian, memecah kesunyian dibalik kegaduhan rintik hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar