kyokinosekai

Jumat, 11 Desember 2015

Cerita di Anak Tangga



            Aku benar-benar lupa kalau hari ini ada kuliah pagi! Segera saja aku beranjak ke kamar mandi, tak peduli bersih atau tidak yang penting basah. Tanpa makan sebutir nasi dan meneguk air sedikit pun, aku berlari secepat mungkin menuju pangkalan ojek depan komplek.
            “Sial! Kemana tukang ojeknya?” tanpa pikir panjang aku melanjutkan lari dengan secepat-cepatnya aku bisa berlari. Gila aja kalau sampai telat. Ini jamnya Pak Wando, guru dengan tampang serem, yang kumisnya lebih tebel dari Pak Raden.
            “Fiuhh… nyampe juga,” aku berhenti sejenak setelah sampai di gerbang kampus untuk bernapas. Lalu, aku lanjut menaiki anak tangga menuju kelas. Saat itu aku berpapasan dengan lelaki berambut blonde, berbaju kotak-kotak, dan membawa topi. Ya, itu Toru dan 3 temannya. Mereka menghalangiku. Aku pun bergeser ke kanan untuk menghindari mereka. Tapi Toru malah bergeser ke kiri, sehingga kami saling berhadapan dan aku pun tak bisa lewat. Aku bergeser ke kiri, dan Toru bergeser ke kanan. Kejadian ini berulang beberapa kali. Aku pun memasang muka kesal supaya Toru tahu kalau aku tidak suka diperlakukan seperti itu.
            “Ya maaf, aku gak maksud, kok” katanya sambil tertawa.
            “Udah cepet minggir!” balasku tak sabar. Tapi jujur saja, hatiku bergetar ketika berhadapan dengannya.
            “Yee… kamu yang minggir,”
            “Hhhhh”
            “Idiih, udah cepet lewat,”
            Terdengar suara Taka, Tomoya, dan Ryota yang pura-pura batuk, mungkin untuk menggoda kami. Toru pun mengepal tangannya dan bersiap memukul. Tapi aku bisa lihat kalau dia menahan senyum. Aku pun segera melarikan diri untuk menutupi ‘kesaltinganku’, lagi pula aku sudah hampir terlambat. Dan ketika itu pula, entah bagaimana itu bisa terjadi, aku dan Toru bertabrakan. Beruntung aku tidak jatuh dari tangga, karena ada seseorang yang menangkap tubuhku dengan cepat. Aku pun membulatkan mata ketika tahu kalau itu ternyata Toru. Wajahku dengannya hanya berjarak beberapa centi! Sejenak kami saling pandang. Beberapa detik kemudian aku tersadar dan buru-buru melepas tanganku darinya. Tanpa sadar ia menolak untuk melepas tanganku.
            “Maaf, aku sudah terlambat,” kata-kataku membuyarkannya. Dengan segera dia melepas tanganku dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
            Aku pun berlari sambil menutup wajah dengan buku. Berusaha untuk melupakan apa yang baru terjadi. Dan mencoba untuk tidak BAPER. n_n ^È^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar